Kutip Presisi.sbs Aku tidak ingin dikenang hanya karena senyum, kelembutan, atau kata-kata yang menenangkan.
Aku ingin dikenang karena keberanian menjaga hati nurani, keteguhan menegakkan keadilan, dan kesetiaan mengabdikan ilmu serta profesiku bagi bangsa dan negara.
Aku memilih menjadi Srikandi Pejuang Keadilan.
Bukan untuk mencari tepuk tangan.
Bukan untuk mengejar kemuliaan.
Bukan pula untuk membangun kebesaran diri.
Aku hanya ingin memastikan bahwa mereka yang lemah tidak kehilangan harapan, bahwa mereka yang tertindas tetap memiliki tempat untuk mencari perlindungan, dan bahwa setiap orang memperoleh kesempatan yang sama untuk didengar di hadapan hukum.
Aku tidak ingin menjadi sekadar mawar penghias taman—indah dipandang, tetapi mudah layu ketika diterpa musim.
Aku ingin menjadi melati pagar bangsa; sederhana dalam sikap, teguh dalam pendirian, harum karena ketulusan, dan tetap berdiri menjaga kehormatan profesi, keadilan, serta marwah Indonesia.
Selama Tuhan masih mempercayakan napas ini kepadaku, aku akan terus melangkah dengan keberanian, menjaga integritas, menghormati hukum, membela hak-hak setiap manusia secara profesional, dan mengabdikan diriku bagi tegaknya keadilan.
Bagiku, keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut.
Keberanian adalah tetap memilih berdiri di sisi kebenaran, meskipun harus menghadapi tekanan, kesendirian, dan badai yang datang silih berganti.
Karena pada akhirnya, seorang advokat tidak diukur dari seberapa sering ia memenangkan perkara, melainkan dari seberapa teguh ia menjaga integritas, kehormatan profesi, dan kepercayaan masyarakat.
Aku tidak ingin menjadi bunga yang sekadar dikagumi. Aku ingin menjadi jejak yang memberi arti.
Bukan sekadar mawar penghias taman, tetapi melati pagar bangsa.
Bukan sekadar hidup untuk diri sendiri, melainkan mengabdikan setiap langkah demi tegaknya keadilan, kemanusiaan, dan kehormatan Indonesia.
Advokat Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO.,C.PIM. 🇮🇩⚖️
(SETHO Presisi.sbs)



