Banyuwangi, presisi.sbs – Persoalan sampah di Kabupaten Banyuwangi membutuhkan perubahan paradigma. Ketika kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) semakin terbatas, solusi tidak bisa terus-menerus hanya berupa perluasan lahan atau pembangunan tempat pembuangan baru.
Gagasan tersebut disampaikan Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, MM, Tenaga Ahli Ketahanan Pangan, Pendukung Infrastruktur Pertanian dan Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, melalui tulisan yang dimuat Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi 17 Agustus 2026.
Menurut gagasan yang disampaikan Guntur, Banyuwangi membutuhkan model pengelolaan sampah yang mampu menjembatani persoalan dari tingkat sumber menuju pengolahan akhir. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah TPS3R berbasis zona sebagai solusi intermediate, sebelum sampah yang tersisa masuk ke fasilitas pengolahan lebih lanjut maupun TPA.
TPS3R Zona Menjadi Solusi Intermediate
Selama ini persoalan sampah sering terjebak pada pola kumpulkan–angkut–buang. Sampah dari rumah tangga dikumpulkan, diangkut menggunakan armada, lalu seluruhnya diarahkan ke TPA.
Pola tersebut akan semakin berat ketika jarak pengangkutan jauh, volume sampah meningkat dan kapasitas TPA semakin menurun.
Karena itu, diperlukan sebuah mata rantai antara yang mampu mengurangi beban sistem sebelum sampah mencapai TPA.
Di sinilah TPS3R berbasis zona dapat memainkan peranan penting.
TPS3R zona dapat ditempatkan berdasarkan pembagian wilayah pelayanan tertentu sehingga sampah tidak semuanya harus langsung dibawa menuju TPA. Sampah dari sejumlah desa atau kawasan dikonsolidasikan terlebih dahulu di TPS3R zona untuk dilakukan pemilahan, pengurangan, pengolahan dan pemanfaatan.
Dengan model tersebut, perjalanan sampah menjadi lebih pendek dan sistem pengelolaan menjadi lebih terdesentralisasi.
TPA tetap diperlukan, tetapi bukan lagi menjadi tujuan utama seluruh sampah.
TPS3R zona menjadi semacam simpul intermediate yang menyaring dan mengolah sampah sebelum residunya diteruskan ke fasilitas berikutnya.
Mengurangi Beban TPA dari Hulu
Konsep ini penting karena persoalan TPA sebenarnya merupakan persoalan hilir.
Jika sampah yang masuk dari hulu terus bertambah, berapa pun kapasitas TPA yang dibangun pada akhirnya akan penuh.
Karena itu, yang harus dikejar bukan sekadar menambah kapasitas TPA, tetapi mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
TPS3R zona dapat menjadi salah satu instrumen untuk mencapai target tersebut.
Sampah organik dapat dipisahkan dan diolah. Sampah anorganik bernilai ekonomi dapat dipilah dan dikembalikan ke rantai daur ulang. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali, sedangkan residu yang benar-benar tidak dapat diolah baru diarahkan menuju pengolahan akhir.
Dengan demikian, TPA hanya menerima bagian paling akhir dari rantai tersebut.
Dari TPS3R Menuju Ekonomi Sirkular
Namun, pembangunan TPS3R zona tidak boleh berhenti pada kegiatan memilah dan mengurangi sampah.
Lebih jauh, sistem tersebut harus diarahkan menuju ekonomi sirkular.
Dalam konsep ekonomi sirkular, material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah diupayakan tetap berada dalam siklus ekonomi selama mungkin.
Artinya, sampah bukan hanya sesuatu yang harus segera dibuang, tetapi dipandang sebagai material yang masih memiliki nilai.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau produk turunan lainnya.
Sampah plastik, kertas, logam dan material lain dapat dipilah untuk masuk ke industri daur ulang.
Material yang masih dapat digunakan kembali diarahkan untuk reuse, sedangkan material yang tidak bisa digunakan kembali dapat diproses dengan teknologi yang sesuai.
Dengan pendekatan ini, sampah berubah dari beban menjadi sumber daya ekonomi.
TPS3R Zona Harus Terhubung dengan Pasar
Inilah tantangan yang tidak kalah penting.
TPS3R tidak boleh hanya dibangun sebagai proyek fisik. Setelah bangunan berdiri, harus ada sistem operasional yang jelas.
Harus ada kepastian siapa pengelolanya, dari mana biaya operasionalnya, bagaimana sistem pengumpulan sampahnya, ke mana hasil pemilahan dijual dan siapa yang menjadi pasar produk hasil pengolahan.
Jika aspek tersebut tidak dipikirkan sejak awal, TPS3R berisiko hanya menjadi tempat penampungan sementara.
Karena itu, TPS3R zona harus dirancang sebagai bagian dari rantai ekonomi, bukan sekadar fasilitas persampahan.
Pengelola harus memiliki hubungan dengan bank sampah, pengepul, industri daur ulang, pelaku UMKM, kelompok masyarakat maupun sektor usaha yang membutuhkan material hasil pengolahan.
Dengan demikian, sampah yang masuk memiliki jalur pemanfaatan yang jelas.
Model Zona Bisa Menyesuaikan Karakter Wilayah
Banyuwangi memiliki wilayah yang luas dengan karakter geografis dan aktivitas ekonomi yang berbeda-beda.
Karena itu, pendekatan satu model untuk seluruh wilayah belum tentu efektif.
Wilayah perkotaan memiliki karakter sampah yang berbeda dengan kawasan pertanian, pesisir, pariwisata maupun kawasan industri.
TPS3R berbasis zona dapat menjadi pendekatan yang lebih fleksibel.
Setiap zona dapat dirancang berdasarkan karakteristik timbulan sampah, jumlah penduduk, jarak antarwilayah, akses transportasi, potensi ekonomi dan jenis sampah dominan.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak harus selalu tersentralisasi di satu lokasi.
Sistemnya dapat dibuat berjenjang: rumah tangga sebagai titik awal, TPS3R zona sebagai simpul intermediate, fasilitas pengolahan sebagai tahap berikutnya, dan TPA sebagai tempat terakhir bagi residu.
Banyuwangi Sudah Memiliki Fondasi
Banyuwangi sebenarnya tidak memulai dari titik nol.
Berbagai TPS3R telah dikembangkan. Program Banyuwangi Hijau juga mendorong pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.
Pada saat yang sama, pembangunan fasilitas pengolahan sampah dengan kapasitas besar dan dukungan teknologi seperti RDF menunjukkan adanya upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembuangan langsung.
Namun, seluruh fasilitas tersebut harus ditempatkan dalam satu sistem yang saling terhubung.
Jangan sampai TPS3R berjalan sendiri, fasilitas pengolahan berjalan sendiri dan TPA tetap menerima hampir seluruh sampah.
Yang dibutuhkan adalah rantai pengelolaan dari hulu sampai hilir.
Ekonomi Sirkular Membuka Peluang Ekonomi Baru
Jika ekonomi sirkular benar-benar diterapkan, persoalan sampah juga dapat membuka peluang ekonomi masyarakat.
Pemilahan sampah dapat menciptakan lapangan kerja.
Pengolahan sampah organik dapat melahirkan produk kompos.
Material daur ulang dapat menjadi bahan baku industri.
Produk hasil pengolahan dapat dikembangkan menjadi komoditas baru.
Bahkan pengelolaan sampah dapat menjadi ruang tumbuh bagi kelompok masyarakat, koperasi, UMKM dan badan usaha lokal.
Dengan kata lain, pengurangan sampah tidak harus dipandang sebagai beban biaya pemerintah, tetapi dapat dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi baru.
Jangan Hanya Membangun TPA Baru
Pembangunan TPA baru mungkin tetap dibutuhkan untuk menangani residu.
Tetapi pembangunan TPA tidak boleh menjadi jawaban tunggal.
Jika produksi sampah terus meningkat sementara seluruh sampah tetap dikirim ke TPA, persoalan hanya akan berulang.
Hari ini TPA baru dibangun, beberapa tahun kemudian kapasitas kembali menurun, lalu pemerintah mencari lahan baru lagi.
Siklus tersebut tidak berkelanjutan.
Karena itu, ukuran keberhasilan seharusnya bukan seberapa besar TPA mampu menampung sampah, tetapi seberapa besar sampah berhasil dicegah masuk ke TPA.
Perubahan Perilaku Menjadi Kunci
Model TPS3R zona dan ekonomi sirkular juga membutuhkan perubahan perilaku masyarakat.
Pemilahan harus dimulai dari rumah.
Masyarakat harus mengetahui perbedaan sampah organik, anorganik bernilai ekonomi dan residu.
Pemerintah juga harus memastikan sistem pengangkutan tidak kembali mencampurkan sampah yang sudah dipilah.
Sebab percuma masyarakat memilah apabila pada tahap berikutnya seluruh sampah kembali dicampur.
Konsistensi sistem menjadi kunci membangun kepercayaan masyarakat.
Banyuwangi Bisa Menawarkan Model Baru
Gagasan yang disampaikan Guntur pada akhirnya mengarah pada satu perubahan besar.
Banyuwangi tidak harus memilih antara TPA atau TPS3R.
Keduanya dapat ditempatkan dalam sistem yang berbeda fungsi.
TPS3R zona menjadi solusi intermediate untuk mengurangi dan mengolah sampah sebelum masuk ke tahap akhir.
Sementara ekonomi sirkular menjadi arah jangka panjang, agar material yang masih memiliki nilai tidak langsung berakhir sebagai sampah.
Sedangkan TPA ditempatkan sebagai garis pertahanan terakhir, khusus untuk residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan atau diolah kembali.
Model semacam ini membuat sistem lebih rasional.
Sampah tidak langsung dibawa sejauh mungkin untuk dibuang, tetapi terlebih dahulu diproses sedekat mungkin dengan sumbernya.
Bukan Sekadar Urusan Kebersihan
Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan kebersihan kota dan lingkungan.
Ini menyangkut infrastruktur, tata kelola, ekonomi, teknologi, perilaku masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, perubahan sistem membutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat sampah secara lintas sektor.
Gagasan TPS3R berbasis zona dapat menjadi solusi antara yang realistis untuk mengurangi tekanan terhadap TPA. Sementara ekonomi sirkular memberikan arah agar sampah yang masih bernilai tidak berakhir sia-sia.
Pesannya jelas: jangan terus-menerus memperbesar tempat untuk membuang sampah. Perbesar justru kemampuan untuk mengurangi, memilah, mengolah dan memanfaatkan sampah.
Jika sistem tersebut dapat diterapkan secara konsisten, Banyuwangi bukan hanya menyelesaikan persoalan sampahnya sendiri, tetapi berpeluang menawarkan model pengelolaan sampah berbasis zona dan ekonomi sirkular yang dapat direplikasi di daerah yang lain. (Sp)


