ACEHSINGKIL,PRESISI.SBS – Panggung olahraga Kabupaten Aceh Singkil kembali diwarnai catatan kelam keacuhan birokrasi. Sebanyak enam atlet pencak silat berprestasi yang membawa nama seni bela diri etnis Pakpak, Moccak Pakpak, resmi bertolak ke Malaysia pada Rabu (23/9).
Mirisnya, langkah mereka menuju pentas dunia harus terwujud lewat dana patungan dan gotong royong mandiri para orang tua, akibat absennya respons maupun dukungan finansial dari Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh Singkil.
Keberangkatan kontingen binaan Pengurus Besar Perkumpulan Silat Moccak Pakpak Tradisional (PB TAMPAK) untuk mengikuti ajang bergengsi FIFTY7K International Open Championship / Silat Champions Cup 2026 di Selangor, Malaysia, seolah mengonfirmasi minimnya keberpihakan pemerintah setempat terhadap talenta-talenta lokal yang siap mengharumkan nama daerah di kancah internasional.
Padahal, para pendekar muda asuhan pelatih Gunawan Berutu ini merupakan aset berharga yang sebelumnya telah membuktikan kualitas mereka lewat rekam jejak prestasi gemilang pada ajang Pra-PORA Aceh 2026. Namun, proposal dan harapan yang digantungkan kepada otoritas daerah berujung pada sikap diam tanpa kepedulian nyata.
Menanggapi situasi ini, Pengurus Utama TAMPAK, Penatar L. Berutu, tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya terhadap pihak Pemda, namun sekaligus menyampaikan rasa hormat setinggi-tingginya kepada para orang tua atlet yang menolak membiarkan mimpi anak-anak mereka dipadamkan oleh sistem.
“Semuanya telah kita datangi dan ajukan proposal agar adek-adek ini bisa berangkat tanpa harus mengeluarkan biaya, namun kenyataannya. Ya sudahlah, toh kami sudah diselangor dan pada tanggal 25 esok akan bertanding,” ucap Penatar dengan semangat.
Namun, dinginnya respons pemerintah daerah justru dijawab dengan kehangatan solidaritas para orang tua yang rela berkorban demi masa depan anak-anak mereka dan marwah budaya Pakpak. Ketiadaan anggaran bukan alasan bagi kami untuk mundur,” tegas Penatar L. Berutu.
Beruntung, di tingkat akar rumput, pelepasan kontingen yang berlangsung di Desa Kuta Tinggi masih mendapat simpati dari tokoh masyarakat setempat yang hadir memberikan dukungan moril.
Menurut Penatar, pada kesempatan ini sedikitnya ada 50 kontingen dari beberapa negara serumpun yang akan bertanding, dan Moccak Pak Pak dari Provinsi Aceh merekalah mewakili.
“Ada 50 kontingen dari negara-negara serumpun yang ikut dan kita mewakili Provinsi Aceh, itupun karena kita menyabet 6 Emas saat bertanding di Provinsi Sumut beberapa waktu lalulah sebagai penentu pada hari ini ikut bertanding di Malaysia,” ujarnya.
Sangat disayangkan, ajang internasional sebesar ini tidak mendapat respons dan atensi dari Pemda Aceh Singkil. Ini menjadi tamparan keras bagi dunia olahraga kita.
Disaat kabupaten lain berlomba-lomba memajukan Olahraga sebagai iconnya, berbanding terbalik dengan Kabupaten Aceh Singkil yang mundur kebelakang.
Kini, keenam atlet muda Aceh Singkil tersebut telah berada di Malaysia. Mereka bertekad membuktikan bahwa mental juara yang lahir dari kemandirian dan tetesan keringat orang tua jauh lebih kuat dibandingkan janji manis birokrasi yang tak kunjung terealisasi.(***)



