Oleh: Budi RizkiyantoPemerhati Kebijakan Publik
Dikutip Presisi.sbs Kebodohan tidak selalu lahir dari kurangnya pengetahuan. Ada orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi, tetapi hatinya terbuka untuk menerima kebenaran ketika ia menemukannya. Sebaliknya, ada pula mereka yang berlimpah ilmu, memiliki akses informasi yang luas, dan kemampuan berpikir yang baik, namun tetap menolak fakta karena bertentangan dengan kepentingan, kenyamanan, atau ambisinya sendiri. Pada titik itulah kebodohan bukan lagi persoalan intelektual, melainkan persoalan integritas dan keberanian moral.
Sering kali manusia tidak tertipu oleh kebohongan karena tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena memilih mempercayai kebohongan yang menguntungkan dirinya. Kebohongan yang memanjakan ego terasa lebih nyaman daripada kebenaran yang menuntut perubahan. Mengakui kesalahan berarti meruntuhkan kesombongan. Menerima kenyataan berarti berani meninggalkan keyakinan yang selama ini dipertahankan. Karena itu, tidak sedikit orang yang memilih hidup dalam ilusi daripada menghadapi kenyataan.
Di era ketika informasi menyebar lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memverifikasinya, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan. Kebohongan yang diulang terus-menerus dapat terlihat seperti kebenaran, sementara fakta sering ditolak hanya karena tidak sesuai dengan kepentingan, identitas, atau pandangan kelompok tertentu. Pada akhirnya, yang dicari bukan lagi apa yang benar, melainkan apa yang ingin didengar. Ketika emosi mengalahkan akal sehat, kebohongan memperoleh panggung yang lebih luas daripada kebenaran.
Padahal, kebenaran tidak selalu menghadirkan kenyamanan. Ia dapat melukai kesombongan, mengguncang keyakinan lama, dan memaksa manusia mengakui bahwa dirinya pernah keliru. Namun justru karena itulah kebenaran memiliki nilai yang tidak tergantikan. Kebenaran membentuk kedewasaan, sedangkan kebohongan hanya memberikan ketenangan yang sementara. Mereka yang berani menerima kenyataan, seberat apa pun, memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, mereka yang mempertahankan kebohongan hanya sedang menunda konsekuensi yang pada akhirnya tetap harus dihadapi.
Menjadi manusia yang bijaksana bukan berarti tidak pernah salah. Kebijaksanaan adalah kesediaan untuk berpindah kepada kebenaran ketika bukti telah menunjukkannya. Tidak ada kemuliaan dalam mempertahankan kesalahan hanya demi menjaga gengsi. Sebaliknya, kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan adalah bukti bahwa akal masih hidup dan hati masih terbuka menerima cahaya.
Karena yang paling berbahaya bukanlah tidak mengetahui kebenaran, melainkan mengetahui kebenaran lalu dengan sadar memilih berpaling darinya. Dari pilihan itulah kebodohan yang sesungguhnya bermula.
— Budi RizkiyantoPemerhati Kebijakan Publik
(SETHO PRESISI.SBS)


