SURAT CINTA KE-4 UNTUK PEMIMPIN NEGERI
Karya Bersama: Budi Rizkiyanto & Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM.
JAKARTA –04-agustus-2026-
Dikutip Presisi.sbs Yang Terhormat, Seluruh Pemimpin Negeri Republik Indonesia,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Shalom.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Salam kebajikan.
Izinkan kami kembali menulis surat ini. Bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk mencari perhatian.

Surat ini lahir dari cinta yang begitu besar kepada Indonesia, negeri yang diwariskan para pendiri bangsa dengan air mata, darah, doa, dan pengorbanan.
Kami percaya, setiap pemimpin datang membawa harapan. Setiap jabatan adalah amanah. Setiap keputusan akan menjadi bagian dari sejarah yang kelak dibaca oleh anak cucu bangsa.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan sumber daya alam. Tidak kekurangan cita-cita besar.
Yang sering dirindukan rakyat hanyalah satu: keadilan yang benar-benar hidup.
Keadilan bukan sekadar pasal-pasal yang tertulis dalam lembaran undang-undang. Keadilan adalah keberanian negara melindungi setiap warganya tanpa membedakan siapa mereka.
Ketika rakyat kecil mencari perlindungan, negara harus hadir.
Ketika korban meminta kepastian hukum, negara harus mendengar.
Ketika kebenaran diuji, hukum harus berdiri tegak tanpa rasa takut.
Karena keadilan tidak boleh tunduk kepada kekuasaan, kekayaan, maupun tekanan apa pun.
Pemimpin Negeri yang kami hormati,
Kepercayaan rakyat adalah modal terbesar sebuah negara. Kepercayaan itu tidak dibangun melalui janji yang indah, melainkan melalui keputusan yang jujur, keberanian memperbaiki kesalahan, serta keteguhan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengoreksi dirinya.
Seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang selalu ingin dipuji.
Melainkan mereka yang mampu menerima kritik dengan hati yang lapang demi masa depan bangsanya.
Kami percaya Indonesia memiliki masa depan yang luar biasa apabila hukum ditegakkan tanpa pandang bulu,
apabila keadilan diberikan tanpa diskriminasi, dan apabila setiap kebijakan selalu berlandaskan hati nurani.
Sebab rakyat tidak pernah menuntut kesempurnaan.
Rakyat hanya berharap negara tetap berpihak kepada kebenaran.
Suatu hari nanti, jabatan akan berakhir.
Kekuasaan akan berganti.
Gedung-gedung megah akan menjadi saksi bisu perjalanan zaman.
Namun sejarah hanya akan mengenang dua jenis pemimpin.
Mereka yang membiarkan ketidakadilan menjadi warisan.
Atau mereka yang menjadikan keadilan sebagai cahaya yang menerangi perjalanan bangsa.
Pilihan itu ada di tangan para pemimpin hari ini.
Menjelang Dirgahayu Republik Indonesia ke-81, marilah kita bersama menjadikan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”
bukan sekadar slogan, melainkan tekad bersama untuk menghadirkan Indonesia yang benar-benar melindungi seluruh rakyat tanpa membedakan suku, agama, ras, latar belakang, kedudukan, maupun status sosial.
Karena sebesar apa pun sebuah bangsa, kemuliaannya akan selalu diukur dari bagaimana negara menjaga martabat manusia,
menghormati hak setiap warga negara, dan menghadirkan keadilan bagi mereka yang paling membutuhkan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan kebijaksanaan, keberanian, kesehatan,
serta hati nurani kepada seluruh pemimpin negeri agar setiap langkah yang diambil menjadi jalan menuju Indonesia yang semakin adil, semakin bermartabat, dan semakin dicintai rakyatnya.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Merdeka adalah ketika setiap rakyat merasakan keadilan, perlindungan, dan harapan di tanah airnya sendiri.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Hormat kami,
Info :Budi Rizkiyanto
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM.
(SETHO PRESISI.SBS)



