spot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

ORANG BARAT,YANG MENCINTAI NUSANTARA

MOJOKERTO,Minggu 16 Agustus 2026 – #Presisi.sbs – Sudah Ratusan turis bulan Agustus paling banyak dari portugal, belanda dan jepang berkunjung Ke Trowulan

sang jantung Majapahit, kini menjadi saksi bisu sebuah ironi yang menyentuh hati. Di bawah langit senja yang memancarkan rona keemasan, pelataran Candi Tikus dipenuhi jejak langkah dari berbagai belahan dunia.

​Mari kita perhatikan mereka. Dari kejauhan, nampak sebuah keluarga kecil dari Portugal. Sang ayah menggendong putranya yang masih balita, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu, mendengarkan dengan saksama penjelasan juru pelihara tentang sistem perairan kuno. Tak jauh dari mereka, sepasang lansia dari Jepang berdiri dengan takzim di depan reruntuhan, sejenak menyatukan telapak tangan dalam sikap hormat yang mendalam, seolah memberi penghormatan pada leluhur tanah ini.

Ada pula keluarga dari Belanda, sang ibu menunjukkan buku panduan tebal kepada anak remajanya, menelusuri detail relief bata merah yang kokoh.

​Bagi mereka, Trowulan bukanlah sekadar tumpukan bata tua. Ini adalah perjalanan spiritual untuk menyentuh langsung denyut nadi sebuah imperium besar yang pernah menyatukan Nusantara.

Mereka sadar, ribuan kilometer perjalanan yang mereka tempuh, tenaga yang terkuras, dan biaya yang tidak sedikit itu sirna seketika, terbayar lunas oleh nilai sejarah yang tak ternilai harganya dengan materi. Ada getaran haru yang tulus di wajah-wajah asing itu, sebuah pengakuan jujur akan keagungan peradaban Indonesia.

​Namun, di tengah harmoni kekaguman dunia itu, terselip sebuah pemandangan yang menyayat hati—sebuah “miris” yang nyata.

​Di sudut lain pelataran candi, di atas tumpukan struktur bata kuno, duduklah sekelompok anak muda lokal. Mereka adalah representasi generasi milenial kita, “tuan rumah” dari warisan luhur ini. Namun, tak satu pun dari mereka menoleh ke arah candi. Wajah-wajah mereka tertunduk, sepenuhnya terpaku pada layar smartphone masing-masing. Mereka asyik berselancar di dunia maya, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang duduk di atas sejarah besar yang dihormati dunia. Sebuah tanda tanya besar pun menyeruak: Mengapa kita menganggap biasa apa yang dunia anggap istimewa? Sungguh sebuah tamparan halus yang menyadarkan kita tentang pentingnya menjaga api kepedulian terhadap warisan leluhur di tanah sendiri.

Kita sebagai bangsa yang besar,sudah selayaknya tidak Melupakan Sejarah Perjalanan Nenek Moyang.Sejarah akan terasa indah bila kita mampu mengambil Pelajaran & Hikmah.Lewat Sejarah Yang ada,Kita belajar tentang Sebuah karya nyata,yang Terhampar di Bumi Nusantara.

( Rio  )

Popular Articles