spot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ziarah dan Doa Bersama Trah Aning Patih di Selogiri, Ungkap Amanah Leluhur Blambangan – Majapahit

Banyuwangi, http://presisi.sbs – Keluarga besar Trah Aning Patih menggelar pertemuan dan ziarah bersama di petilasan Makam Aning Patih di kawasan Selogiri, Banyuwangi. Acara yang penuh khidmat tersebut dihadiri Kepala Desa Bangsring, Sutoyo, S.H, tokoh masyarakat yang juga guru ngaji Amir Ma’ruf Khan, yakni Ustadz Saad, serta puluhan ahli waris Trah Aning Patih.

Dalam pertemuan tersebut, Amir Ma’ruf Khan bersama sesepuh trah memaparkan kembali sejarah dan amanah leluhur yang selama ini dijaga secara turun-temurun.

Foto: Keluarga besar Trah Aning Patih 

Diceritakan bahwa leluhur Trah Aning Patih memiliki mandat khusus di Kerajaan Blambangan untuk membantu kerajaan dan melanjutkan perjuangan dakwah kakeknya, Syekh Maulana Ishaq, dalam menyiarkan Agama Islam di Tanah Blambangan.

“Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, tapi untuk mengenang dan mengingat kembali amanat leluhur. Bahwa keberadaan kami di Selogiri ini adalah bagian dari sejarah perjuangan Islam di Blambangan,” ujar Amir Ma’ruf Khan, Kamis (8/10/2026).

Silsilah Trah Aning Patih Tersambung ke Blambangan dan Majapahit

Dalam paparannya, dijelaskan silsilah pancer jalur laki-laki Trah Aning Patih yang tersambung langsung kepada para leluhur Kerajaan Blambangan dan Majapahit.

Silsilah tersebut berawal dari pernikahan Syekh Maulana Ishaq dengan Raden Ayu Liung Maroro atau Dewi Sekardadu, putri Bhre Pakembangan atau Menak Sembuyu, cucu dari Bhre Wirabhumi, cicit dari Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Adapun silsilah Syekh Maulana Ishaq adalah: Syekh Maulana Ishaq bin Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan.

Dari pernikahan Syekh Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, lahirlah Raden Paku atau Raden Joko Samudro, yang dalam catatan trah disebutkan masih keturunan langsung Blambangan dari Dewi Sekardadu, cucu Bhre Wirabhumi putra Hayam Wuruk Raja Majapahit.

Dua Petilasan Leluhur di Selogiri dan Watu Dodol

Foto: Keluarga Amir ma’ruf khan

Amir Ma’ruf Khan menjelaskan bahwa di lokasi Selogiri terdapat dua makam leluhur, yaitu Syekh Maulana Ahmad atau Aning Patih dan putranya Syekh Maulana Hening. Sementara di atas Bukit Watu Dodol terdapat dua makam petilasan Syekh Maulana Ishaq dan Haji Muhammad Muji.

Adapun silsilah lengkap jalur tersebut adalah: Haji Muhammad Muji bin Rahmat Agung bin Ali Akbar bin Abdullah bin Syekh Maulana Yasin bin Syekh Maulana Hening bin Syekh Maulana Ahmad bin Raden Paku atau Raden Joko Samudro bin Syekh Maulana Ishaq.

Cerita perjuangan leluhur ini didengar langsung dari Bapak Safi’i dan Mbah Epran alias Haji Hamid bin Imbaran Aji bin Haji Mahmud Emran bin Haji Ahmad Safi’i bin Haji Muhammad bin Haji Muin Giri bin Haji Muhammad Muji.

Para leluhur dikisahkan berjuang melalui perjalanan laut yang berat untuk menunaikan ibadah haji pada masa itu, sekaligus memperluas ajaran Agama Islam di wilayah Kerajaan Blambangan. Atas jasa tersebut, leluhur trah ini mendapat tanah perdikan Selogiri se-wilayah Kerajaan Blambangan.

Kisah Tanah Perdikan dan Sayembara Dewi Sekardadu

Dalam pertemuan itu juga dikisahkan sejarah Kerajaan Blambangan. Pada masa itu wilayah Blambangan sangat luas, meliputi Malang, Porong sampai Sidoarjo utara laut Selat Madura, selatan laut selatan, timur laut dan Pulau Bali. Wilayah ini didapat setelah selesai Perang Paregreg tahun 1406, perang saudara antara Bhre Wirabhumi Raja Blambangan putra kandung Hayam Wuruk dengan Wikramawardhana Raja Majapahit yang merupakan menantu Hayam Wuruk.

Peperangan tersebut terjadi karena perebutan wilayah Malang, Porong, Sidoarjo. Bhre Wirabhumi merasa sebagai anak kandung berhak atas wilayah tersebut, sementara Wikramawardhana adalah menantu. Dalam perang tersebut Bhre Wirabhumi gugur.

Untuk menghindari perang berkepanjangan, Wikramawardhana kemudian mengangkat Bhre Pakembangan atau Menak Sembuyu, putra Bhre Wirabhumi, sebagai Raja Blambangan dengan pusat kerajaan di Tembok Rejo, Muncar.

Kisah lain yang diceritakan adalah ketika Kerajaan Blambangan dilanda wabah penyakit pageblug yang menular. Dewi Sekardadu pun terkena penyakit tersebut dan semua tabib serta dukun tidak mampu menyembuhkannya.

Menak Sembuyu kemudian menggelar sayembara, barang siapa yang mampu menyembuhkan putrinya, jika laki-laki akan dinikahkan dengan putrinya dan diberi sebagian wilayahnya, dan jika perempuan akan diangkat sebagai putri.

Dengan kuasa Allah, Syekh Maulana Ishaq mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu. Menak Sembuyu pun menepati janjinya, menikahkan Dewi Sekardadu dengan Syekh Maulana Ishaq dan memberikan Tanah Selogiri se-wilayah Blambangan. Pemberian tersebut dinilai wajar karena Menak Sembuyu tidak memiliki anak lain selain Dewi Sekardadu.

Dalam catatan silsilah, saudara kandung Menak Sembuyu yang bernama Dyah Daha menikah dan memiliki anak bernama Kencono Wungu. Dengan demikian, Dewi Sekardadu dengan Kencono Wungu masih satu mbah atau sepupu.

Setelah Menak Sembuyu tutup usia karena tua, Kerajaan Blambangan dilanjutkan oleh Menak Sembra atau Mas Sembra.

Syekh Maulana Ishaq bin Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini juga memiliki saudara kandung bernama Syekh Ibrahim Asmarakandi atau Ibrahim Zainuddin Al-Akbar yang memiliki putra bernama Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Pertemuan ziarah kubur tersebut ditutup dengan kirim doa bersama kepada para leluhur yang dipimpin langsung oleh Ustadz Saad, dengan harapan amanah perjuangan dakwah Islam di Tanah Blambangan tetap terjaga. (Sp)

Popular Articles