Banyuwangi, presisi.sbs – Komunitas Pemerhati Banyuwangi (KPB) menggelar Sarasehan Budaya bertema “Mencari Jati Diri Banyuwangi” di Palinggihan Disbudpar Banyuwangi, Jl. A. Yani No. 78, Banyuwangi, pada Sabtu, (29/8/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menggali nilai-nilai luhur, sejarah, budaya, serta kearifan lokal sebagai landasan membangun Banyuwangi yang bermartabat dan berkelanjutan. Bukan sekadar tentang alam dan pariwisata, tetapi tentang identitas Banyuwangi yang utuh.
Sarasehan ini menghadirkan para pembicara: KRT. H. Ilham Triadi Nagoro,M.Pd, (Budayawan), Amir Ma’ruf Khan, (Pengamat Sosial), Budi Kartiyoko, (Filosof Muda), dan Alex Budi Setiyawan (Pegiat Literasi). KPB mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencari, mengenali, dan merawat jati diri Banyuwangi, karena masa depan daerah juga dibangun dari pemahaman terhadap akar budaya dan sejarahnya.
Acara yang berlangsung secara terbuka ini juga menjadi ruang tanya jawab. Ketua Info Warga Banyuwangi (IWB), Abi Arbain, menyampaikan sejumlah pertanyaan mendasar yang menyoroti isu lingkungan dan keterkaitannya dengan Jati Diri Banyuwangi.
“Apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan oleh para Budayawan Banyuwangi dalam menyikapi kerusakan hutan di kawasan Gunung Tumpang Pitu yang diduga terdampak aktivitas PT BSI? Bagaimana peran budayawan dalam menjaga kelestarian alam yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai budaya dan kearifan lokal Banyuwangi?” tanya Abi Arbain.
Pertanyaan ini mengemuka mengingat alam Banyuwangi bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari identitas dan warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya demi generasi mendatang.
Lebih lanjut, Abi Arbain juga menyoroti peristiwa yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu.
“Beberapa waktu lalu sempat viral unggahan salah satu artis di Pantai Pulau Merah, dengan latar belakang terlihat gunung yang gundul. Langkah konkret apa yang sudah dan akan diambil oleh para Budayawan bersama Dinas Pariwisata untuk memberikan penjelasan yang benar kepada publik, agar tidak menimbulkan citra negatif terhadap pariwisata Banyuwangi sekaligus menjelaskan fakta yang sebenarnya di lapangan?” lanjutnya.
Sarasehan ini juga membahas peran Duta Wisata Banyuwangi dalam menyikapi fenomena tersebut.
“Dinas Pariwisata setiap tahun mencetak Duta Wisata Jebheng Tulik Banyuwangi. Mengapa para duta wisata ini tidak diberi ruang atau tugas untuk ikut memviralkan keindahan Pantai Pulau Merah sekaligus mengedukasi publik tentang fenomena ‘Bom Boman’ di Gunung Tumpang Pitu yang ada di sebelahnya? Ataukah memang fenomena tersebut akan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata edukasi baru di Banyuwangi?” tanya Abi.
Pertanyaan ini menjadi bahan diskusi mendalam bahwa promosi wisata seharusnya tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga jujur dan transparan terhadap realitas yang ada di sekitarnya termasuk kondisi alam yang menjadi bagian dari jati diri Banyuwangi itu sendiri.
Sarasehan Budaya “Mencari Jati Diri Banyuwangi” ini diharapkan bukan sekadar menjadi acara diskusi, melainkan menjadi titik tolak lahirnya langkah nyata dalam menjaga, merawat, dan membangun Banyuwangi yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kokoh di atas akar budaya, sejarah, dan kelestarian alamnya. (TIM IWB)



