spot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Krisis Akidah di PBB: Ulama Desak Realisasi Da’i dan Bantuan Rutin Bulanan dari Baitul Mal

ACEHSINGKIL,PRESISI.SBS — Kasus pendangkalan akidah kembali mencuat di Kabupaten Aceh Singkil. Satu keluarga yang berdomisili di Kecamatan Pulau Banyak Barat (PBB) dilaporkan kembali murtad.

Ironisnya, perpindahan keyakinan ini didasari oleh alasan klasik, yaitu terimpit masalah ekonomi.

Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan ulama Aceh Singkil, Ustaz Ramlan, saat menghadiri diskusi bersama para tokoh Peduli Muallaf Aceh Singkil di Aula MPU Aceh Singkil.

Peristiwa ini meluas menjadi perhatian serius karena bukan hanya satu keluarga ini saja yang murtad, melainkan sudah ada beberapa warga lainnya yang telah murtad sebelumnya di wilayah tersebut.

Menanggapi fenomena yang memprihatinkan ini, Ustaz Ramlan menyampaikan rasa prihatin yang mendalam dan menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dipandang sebelah mata.

“Ini adalah kejadian yang sangat miris. Masalah perut dan ekonomi kembali menjadi celah bagi goyahnya keimanan saudara kita. Kenyataan bahwa sudah ada beberapa warga yang murtad sebelumnya menunjukkan bahwa ini adalah alarm keras yang harus segera disikapi,” ujar Ustaz Ramlan.

Ustaz Ramlan mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh Singkil serta seluruh pihak terkait untuk bersinergi dalam mengantisipasi gerakan kristenisasi di Aceh Singkil.

Salah satu solusi konkret yang ia tuntut adalah realisasi penempatan Da’i sesegera mungkin, terutama di daerah kepulauan dan wilayah-wilayah rawan akidah.

“Penempatan Da’i di perbatasan dan pulau terpencil harus segera direalisasikan tanpa ditunda lagi. Mereka adalah benteng utama dalam menjaga dan membimbing pemahaman keagamaan umat,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Ustaz Ramlan mengingatkan bahwa menjaga keutuhan akidah masyarakat bukan hanya tugas para ulama atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.

“Pemerintah, lembaga amil zakat, hingga tokoh masyarakat harus hadir memberikan solusi ekonomi sekaligus penguatan spiritual agar tidak ada lagi warga yang menggadaikan keimanan akibat kesulitan hidup sehari-hari.” Imbuhnya.

Sementara itu, Ustadz Azmi (mantan DAI perbatasan) mengatakan, “Kita ini seperti buih di lautan—banyak tapi kosong. Sudah 7 orang murtad yang kita ketahui, belum lagi mereka yang tidak ketahuan. Kalau masalah ini didiamkan, maka akan makin banyak saudara kita yang murtad. Saya sangat sedih dan merasa miris sekali. Label miskin ini menjadi kesempatan bagi para misionaris untuk memurtadkan saudara-saudara kita. Ditambah lagi, Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh juga mengosongkan posisi Dai-dai di perbatasan. Ini membuat situasi menjadi semakin miris. Tolong, masalah ini harus segera diselesaikan.” pinta Azmi.

Ustaz Jaini Saleh, Penghulu KUA Pulau Banyak mengatakan, masuknya minuman keras jenis tuak itu masuk ke Pulau Banyak ini juga harus menjadi perhatian serius.

“Transit minuman tuak itu datangnya dari Nias bukan berskala kecil melainkan sudah partai besar, ini juga harus menjadi perhatian serius pemerintah,” ucap Jaini.

Para undangan yang didominasi oleh para ustaz mendesak agar Baitul Mal mengambil peran lebih dominan dalam menangani persoalan murtad akibat masalah ekonomi di Aceh Singkil. Mereka meminta agar bantuan kepada para muallaf tidak hanya diberikan secara berkala, melainkan disalurkan setiap bulan dengan fokus khusus pada peningkatan kemandirian ekonomi.(***)

Popular Articles