Di balik megahnya arsitektur hotel bintang lima, riuhnya pusat perbelanjaan, dan populernya destinasi kuliner ternama, publik umumnya hanya melihat keberhasilan dari kacamata strategi pemasaran atau besarnya investasi modal. Namun, di tengah ketatnya arus kompetisi bisnis modern, terdapat faktor tak kasatmata yang kian banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha: penataan dan harmonisasi energi lingkungan.
Rifkie Satrio, seorang konsultan spiritual yang banyak mendampingi klien korporasi hingga figur publik di Indonesia, mengungkapkan bahwa peran yang ia jalani memiliki fungsi strategis yang serupa dengan penasihat keuangan, pajak, atau manajemen bisnis. Menurutnya, sengitnya persaingan kerap memicu munculnya residu energi negatif di area operasional yang dapat memengaruhi iklim usaha serta kenyamanan tempat tersebut.
Saat mendampingi pengelolaan properti berskala besar, penanganan dilakukan melalui proses space clearing (pembersihan energi) dan blessing untuk menetralkan gangguan serta menyelaraskan tiga elemen utama: bangunan fisik, lingkungan sekitar, dan sumber daya manusia (SDM) yang bertugas. Ketika seluruh elemen tersebut berada dalam kondisi yang harmonis, atmosfer lokasi secara alami menjadi tenang dan nyaman, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan daya tarik serta tingkat kunjungan konsumen secara berkelanjutan.



